ETIKA IKHTILAF (Qunut)

Seperti kita ketahui bersama, Imam syafii berpendapat bahwa membaca Qunut hukumnya sunah dan beliau selalu membacanya tiap shalat. Namun suatu ketika beliau secara sengaja meninggalkanya. Hal itu terjadi di sebuah masjid yang berdekatan dengan kuburan imam abu hanifah ato yang lebih di kenal dengan sebutan imam hanafi.
Saat itu, beliau menjadi imam shalat subuh. Selesai shalat, seorang bertanya apa gerangan yang penyebabkan beliau tidak membaca qunut? Beliau menjawab “ Mana mungkin saya melakukan amalan yang tidak sejalan dengan pendapat Abu Hanifah, sedangkan saya berada dekat dengan (kubur)nya.

Imam abu hanifah berpendapat bahwa bacaan qunut tidak sunah, sedang imam syafii berpendapat sebaliknya. Tetapi perbedaan pendapat ini tidak menyebabkan hubungan kedua mazhab ini renggang, apalagi saling bermusuhan. Dalam jawabanya saat ditanya kenapa imam syafii tidak membaca qunut sangat jelas sekali terlihat bahwa beliau melakukan semata mata untuk menghormati abu hanifah,meskipun beliau sudah meninggal. Disisi lain imam syafii meninggalkan bacaan qunut untuk memudahkan jamaahnya yang mayoritas pengikut abu hanifah dalam melakukan shalat subuh.

Selain itu, pendapat imam mazhab tidak timbul dari sikap egois maupun sombong atau mecari pengikut, tapi lahir dari sikap ingin memahamidan melaksanakan agama sesuai dengan keinginan sang khalik.
Namun apa yang terjadi diantara kita sekarang ini, kadang kita berani mengharamkan amalan sebagian dari yang lain dan dengan mudah mengatakan bidah, padahal dia sendiri tidak memahami betul apa itu bidah
Yang lebih parah lagi banyak “ustads / kyai” di berbagai daerah berani mengatakan dosa bila tidak memilih salah satu ormas bahkan partai politik, sedang mereka tau bahwa sumber dari segala sumber hukum islam adalah kalamulloh (al quran) kemudian hadis lalu mazhab imam yang empat itu.
Disini penulis tekankan bahwa diantara empat mazhab (maliki, hanafi, syafii, hambali)tidak ada yang lebih menonjol ato lebih utama. Justru perbedaan diantara ulama tersebut merupakan rahmat bagi umat krn didalam
perbedaan itu ada “kemudahan/keringanan” dalam menjalankan ibadah

ada masukan?? silakan kirim komentarnya………

4 Tanggapan

  1. setuju !!! di dalam perbedaan ada rahmatan lilalamin dan hanya Allah yang berhak memutuskan halal haram dan dosa seseorang. Dan Hanya Allah pula yg berhak memasukkan hambaNya ke dlm surga atau neraka…Allahua’lam bissowab

  2. betul. Rahmat krn kita bisa mengikuti yg kita mampu. Jangan sperti mereka yg sok tau atau merasa pinter. Lalu gampang menyalahkan yg tdk sepaham

  3. imam syafii dalam kitabnya mengatakan klalaulah hujjahku ternyata salah maka tinggalkanlah hujjahku…
    sekarang jikalau suatu amalan bisa diteliti kedudukannya apakah shahih atau dhoif kenapa kita tidak dapat menjalankan yg shahih itu bukan mengamalkan amalan yang sudah jelas dhoify. pada zaman imam yang 4 itu belum banyak kitab2 sehingga referensi utk menentukan keshahihan sebuah hadist tidak seperti sekarang dan imam syafii sendiri dalam pendahuluan kitabnya berkata seperti di atas.

  4. membandingkan 4 imam mahzab dengan kitab yang lahir setelah ke empat imam itu ada tanda kita paham hirarki sumber hukum islam, smoga alloh membuka mata hati kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: