Akibat TAMAK (melepas burung)

Jika seseorang mendambakan yang serba banyak atau terlalu panjang angan-angannya atas sesuatu yang lebih, niscaya hilanglah sifat qana’ah (merasa cukup dengan yang ada). Dan tidak mustahil ia menjadi kotor akibat loba dan hina akibat rakus sebab kedua sifat itu akan menyeret kepada pekerti yang jahat untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan munkar, yang merusakkan muru’ah (harga diri).

Untuk itu, rasanya tidak keliru kalau kita perhatikan sebuah hadis Nabi saw. yang dijadikan sandaran oleh rekan kita  ketika mengirimkan naskah ini.

” Apabila anak adam (manusia) itu mempunyai dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga untuk tambahan dua lembah tadi. Dan rongga anak Adam itu tidak akan penuh selain oleh tanah. Tetapi, Allah menerima tobat terhadap siapa yang bertobat,” demikian sabda Nabi.

“Ada sebuah cerita menarik dari Asy-Sya’bi yang layak kita simak dengan cermat.

Telah kudengar cerita bahwa terdapat seorang laki-laki menangkap burung qunbarah (semacam burung pipit). Tiba-tiba burung itu bertanya, “Apa yang ingin engkau lakukan pada diriku?”

Laki-laki itu menjawab, “Akan aku sembelih engkau dan aku makan engkau.”

“Demi Allah! Engkau tidak akan begitu berselera memakanku dan aku tidak akan mengenyangkan engkau. Jangan engkau makan aku, tetapi akan aku beritahukan kepada engkau tiga perkara yang lebih baik bagi engkau daripada makananku .”

“Baiklah, sebutkan ketiga perkara itu.”

“Perkara yang pertama, akan aku beritahukan saat aku berada di tanganmu ini. Yang kedua, apabila aku engkau lepas dan terbang ke atas pohon. Yang ketiga, saat nanti apabila aku telah terbang lagi dan berada di atas bukit.”

Laki-laki itu menyanggupi. “Nah, katakan yang pertama,” pinta laki-laki itu kemudian.

“Janganlah engkau gundahkan apa yang telah hilang dari engkau.”

Lalu laki-laki tersebut melepaskan burung itu. Tatkala ia telah berada di atas pohon, berkatalah laki-laki itu, “Katakan perkara kedua!”

“Janganlah engkau benarkan apa yang tidak ada bahwa ia akan ada,” jawab burung itu.

Kemudian burung itu terbang dan hinggap di atas bukit serta tiba-tiba ia berkata, “Hai, orang yang sial. Jika tadi engkau sembelih aku, niscaya akan engkau dapati dalam tubuhku dua biji mutiara. Berat tiap-tiap mutiara dua puluh gram.”

Tampak laki-laki itu menggigit bibirnya, risau dan menyesal. “Cepat katakan yang ketiga,” katanya kemudian, geram. “Engkau telah lupa akan dua perkara tadi, bagaimana mungkin aku terangkan perkara yang ketiga?

Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau jangan mengeluh terhadap apa yang telah hilang dari engkau? Dan jangan engkau benarkan apa-apa yang tidak ada? Coba engkau pikirkan, hai orang yang celaka. Aku, dagingku, darahku, dan buluku tidak akan ada dua puluh gram. Lantaran itu, bagaimana mungkin akan ada dalam perutku dua biji mutiara yang masing-masing seberat dua puluh gram?” Kemudian terbanglah burung bijak itu meninggalkan si lelaki yang merenungi ketamakannya.

Itulah contoh betapa lobanya anak Adam yang dapat membutakan diri dari mengetahui kebenaran Diriwayatkan dari Jarir, dan Jarir meriwayatkannya dari Laits.

yoga

cerita berikutnya Tamak berebut emas

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: