Hakikat sakit

KONSEP SAKIT

Dengan merasa sakit, manusia tahu dan sadar akan pentingnya keadaan sehat sehingga mau untuk mensyukuri bahwa nikmat sehat itu mahal. Hendaknya disadari pula bahwa nikmat sehat adalah karunia Alloh Swt yang harus di pelihara dan dimanfaatkan sebaik- baiknya.

Sakit merupakan keadaan yang senantiasa di alami oleh setiap manusia , ada beberapa hal mengenai keadaan sakit :

Merupakan sunatullah yang mengikuti hukum sebab akibat dari alloh Swt

Contoh :

  1. Cacat lahir karena tidak sempurnanya proses pertumbuhan janin di dalam rahim
  2. Penyakit infeksi yang terjadi sebagai akibat interaksi antara sesama manusia dengan bibit penyakit yang juga merupakan mahluk alloh
  3. Luka yang terjadi akibat dari berbagai kecelakaan
  4. Penyakit yang terjadi sebagai akibat kemunduran oragan tubuh karena lanjut usia
  5. Penyakit jiwa karena factor keturunan atau stress

 Merupaka ujian

Firman Alloh dalam surah Al-Ankabut ayat 2

“apabila manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan kami telah beriman sedang mereka belum di uji’”.

Dan hadist dari Ibnu Majah dan Tarmidzi

“Sesungguhnya alloh Swt bla mencintai sesuatu kaum maka di uji dengan berbagai cobaan, siapa yang ridho menerimanya maka ia akan memperoleh keridhaan alloh dan barang siapa yang tidak ridha akan memperolah murka alloh”.

Merupakan Penebus dosa

Hal ini dapat diperhatikan dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh muslim.

“tidak ada musibah yang menimpa seorang mukmin walau hanya tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali alloh tinggikan derajatnya dan dihapuskan dosanya”

Oleh karena itu makin besar penderitaan seseorang makin besar pula pahala yang di peroleh sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh ibnu majah dan Tarmidzi :

“ sesungguhnya besar pahala sesuai dengan  besarnya penderitaan”

Merupakan peringatan

Keadaan ini kita jumpai pada orang orang yang mederita sakit karena ulahnya yang menyimpang dari petunjuk agama dan melakukan berbagi perbuatan  yang tercela melampui batas. Pada beberapa kasus penyakit  yang di deritanya  dapat menyadarkan dirinya untuk tidak lagi melakukan perbuatan tercela dan kembali pada jalan yang lurus.

 Merupakan Azab

Contoh :

Bisasanya wabah penyakit yang menimpa suatu kaum atau masyarakat disebabkan karena masyarakat di kala itu telah banyak berbuat kezaliman, dimana nilai nilai keagamaan sudah tidak lagi di anut oleh masyarakat itu sehingga timbul kesewenang wenangan dalam tatanan hidup masyarakat itu.

 UPAYA PENYEMBUHAN SAKIT

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa sakit merupakan bagian dari kehidupan manusia atau sunatullah sebagai akibat dari berbagi factor penyebab, sehubungan dengan keadaan tersebut hendaknya dapat dimaklumi hal hal sebagi berikut :

 Bahwa allohlah yang menentukan kesembuhan

Perhatikan firmanNya dalam Qs. As syuara ayat 80:

“Dan bila aku sakit, Dialah (Alloh) yang menyembuhkan”

Manusia wajib Berikhtiar

Dengan mempelajari sunatullah, ilmu kedokteran modern telah banyak mengungkap sebab akibat maupun cara mengobati berbagai penyakit, sehingga para dokter dapat membantu orang sakit dalam berusaha secara lebih terarah. Usaha/ikhtiar ini sejalan dengan hadist yang diriwayatkan An-nasai sebagai berikut : “sesungguhnya Alloh tidak menurunkan suatu penyakit melainkan menurunkan pula obatnya, maka berobatlah”.

Dzikir dan doa membantu kemsembuhan

Sebagaimana yang difirmankan alloh Swt pada surat As syuara ayat 80, bahwa hakikatnya setiap penyakit hanya allohlah yang menyembuhkan, oleh karenanya selalu menyebut asma alloh (dzikir di iringi dengan doa mohon kesembuhan suatu hal yang  harus dilakukan oleh orang sakit)

“berdoalah kepadaku, (niscaya) akan aku kabulkan doamu” Qs. Ghofar ; 60

Perhatikaj juga potongan doa kumail yang diajarkan Ali bin abi thalib “ Wahai alloh yang namaNYA merupakan obat dan menyebutnya menyebabkan kesembuhan”

Shodaqoh dan silaturahmi

Bebrapa riwayat menyatakan bahwa sedekah dan silaturahim dapat mengurangi penderitaan dan mempercepat kesembuhan. Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan oleh At-thabrani dan Abu Naim “bentengilah hartamu dengan membayar zakat, obatilah sakitmu dengan sedekah dan tolaklah bala dengan doa”

“Anas Ra berkata “ bersaba rasulullah Saw “siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya menghubungkan silaturahmi” HR. Bukhari dan muslim

SIKAP SEORANG MUKMIN SAAT SAKIT

Seorang mukmin apabila sedang menderita sakit hendaknya selalu berpegang teguh pada prinsip keimana kepada alloh ta’ala. Jangan sampai tergoda oleh hal hal yang dapat menyimpang dari keyakinan

Oleh karena setiap orang sakit harus bersikap sebagi berikut ;

  1. Berusaha /ihtiar agar cepat sembuh
  2. Memilih pengobatan yang efektif sesuai dengan sunatullah
  3. Mematuhi petunjuk dokter
  4. Tidak berputus asa

“dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat alloh, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat alloh kecuali kaum kafir” QS.12 ;87

  1. Sabar menghadapi musibah “dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang bersabar, apabila di timpa musibah mereka mengucapka sesunggunya kami milik alloh dan kepadanya kami kembali Qs Al Baqarah 155*156
  2. Ikhlas menerima ketentuan alloh Swt setelah berikhtiar
  3. Selalu berbaik sagka terhadapa alloh “jangan ada seorangpun diantara kamu yang meninggal kecuali dalam berbaik sangka kepada alloh yang maha perkasa dan maha besar”
  4. Banyak berdoa dan berdzikir
  5. Banyak bersedekah
  6. Tidak meninggalkan sholat yang lima waktu
  7. Tidak memutuskan silaturahmi

 DZIKIR DAN DOA KETIKA SAKIT

Membaca dzikir dan berdoa adalah cara yang tepat untuk menenangkan batin setiap orang yang sakit. Bila anda sedang sakit perbanyaklah membaca dzikir dan doa dengan penuh keyakinan bahwa alloh adalah maha mendengar dan maha mengabulkan doa hambanya.

Bila anda tidak dapat membaca teks arab cukup dengan baca terjemahan doa tersebut dengan khusu

Dzikir ketika sakit

Membac tasbih = subhanallahi

Membaca tahmid = Alhamdulillah

Membacatakbur = Allohu akbar

Membaca tahlil = laa illaa haillahou

Membaca hauqalah = laahaula wala quwwata illah billah

Membaca hasbalah = hasbiyaallahu wani’mal wakil

Membaca istighfar = astaghfirullah

DOA MOHON KESEMBUHAN

Untuk mempercepat kesembuhan anda yang sedang sakit perbanyaklah membaca doa berikut  “

“As alullahal azhiima rabal arsyil adhimi an yasyfiyanii syifaa-an laa yughaadiru saqaman”

Artinya “aku mohon ampun kepada allah yang maha agung, tuhan yang memiliki arsyi yang besar agar menyembuhkanku, sembuh yang tidak meninggalkan sakit lagi “

Dari hadis riwayat Abu daud dan Tirmidzi

Dan doa yang dibaca oleh kelurga, sanak family serta handai taulan untuk saudaranya yang sakit

“Allohuma robbannaasi adzhibil ba’sa isyfi antasyi syafii laa syifaa’a illa syifa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqaman

Artinya “Ya tuhan semua manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah, engkau maha penyembuh, tidak ada penyembuh kecuali penyembuhan engkau, penyembuh yang tidak meninggalkan sakit”

Dari hadis riwayat Bhukari dan Muslim

DOA MINUM OBAT

Sewaktu akan minum obat hendaknya baca doa”

Biimillahi rahman nirahihmi, allohuma inni as alukal aafiyah”

Artinya “ dengan nama alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang, ya alloh aku mohon sehat kepadamu”

Hadis riwayat Ahmad dan Nasa’i

 DOA MENGHILANGKAN RASA SAKIT

Letakanlah tangan di atas anggota badan yang terasa sakit sambil membaca membaca :

“bismillah 3X. A’uudzu bi’izzatillahi waqudzratihi min syaarri maa ajidu wauhaadzir “ 7X

Artinya “dengan nama allah, (3x), aku berlindung dari kebesaran alloh dan kekuasaanNya dari kejahatan apa yang aku derita dan aku khawatirkan” (dibaca 7x)

DOA KETIKA AKAN OPERASI

Ketika akan masuk kamar operasi bacalah :

“hasbunallahu wani’mal wakil ‘alallahi tawakalna”

Artinya “cukup alloh bagiku sebaik baiknya pelindung dan kepada allah aku betawakal”

DOA SESUDAH OPERASI

“Alhamdulillahi raabbil alamin”

Artinya “ segala puji bagi allah tuhan semesta alam”

DOA AKAN MELAHIRKAN

“hasbunallahu wani’mal wakil ‘alallahi tawakalna”

Artinya “cukup alloh bagiku sebaik baiknya pelindung dan kepada allah aku betawakal”

DOA SETELAH MELAHIRKAN

A’udzu bikalimatittaamaati min kuli syaitanin wahammatin wamin kulli ainin laamah”

Artinya “aku mohon perlindungan dengan kalimat allah yang sempurna dari semua setan dan binatang yang berbisa dan dari segala mata yang menimpakan keburukan karena melihatnya”

Doa untuk bayi yang dilahirkan

“allohuma barik lahu”

Artinya “ya tuhan berkahilah bayi ini”

DOA BAGI ORANG SAKIT YANG TIDAK ADA HARAPAN SEMBUH

Bagi mereka yang sakit dan menurut kedokteran tidak ada harapan untuk sembuh namun masih sadar dan bisa membaca maka bacalah doa ini

“allahuma ahyini ma kanatil hayatu khairan lii watawaffani maa kaanatil wafaatu khairan lii”

Artinya “ya allah, berikanlah aku hidup seandainya hidupku akan menjadi kebaikan bagiku, dan matikanlah aku seandainya mati itu menjadi kebaikan bagiku”

TUNTUNAN IBADAH BAGI ORANG SAKIT

THAHARAH/BERSUCI

Istinja = artinya menghilangkan kotoran baik yang keluar dari dubur maupun qubul dengan niat dalam hati, caranya yaitu dengan air yang suci atau dengan kertas tisu, jika istinja dengan tisu maka

  1. Kalau kotoran hanya ada di tempat keluarnya (qobul/dubur) tidak kemana mana
  2. Kotoran tersebut belum kering sehingga dapat diserap/di hisap oelh kertas tisu

Berwudhu artinya menghilangkan hadas kercil yaitu hal hal yang dapat membatalkn wudhu seperti keluarnya sesuatu dari dubur/qubul.

Cara berwudhu

Bagi orang yang masih sakit tap bias ke kamar mandi dan juga sakitnya boleh kena air maka berlaku layaknya orang sehat

Bagi mereka yang tidak dapat turund ari tempat tidur maka minta di wudukan oleh keluarga atau petugas dengan kain basah atau yang memungkinkan

Tayamun artinya pengganti wudhu dengan menguspkan debu yang suci ke tubuh

KEUTAMAAN DIWAKTU SAKIT

disebutkan dalam beberapa hadis diantaranya yang diriwayatkn oleh imam Bhukari dari aisyah ra “tidak pernah aku melihat seseorang yang mendapatkan kesulitan yang lebih parah dari rasulullah saw”

Ibnu mas’ud juga meriwayatkan “aku mendatangi rasulullah yang sedang sakit, beliau sedang membolak balikan tubuhnya keras keras, kemudian aku bertanya sesungguhnya engkau membolak balikan tubuh keras keras, apakah dengan demikian engkau akan memperoleh dua pahala” rasulullah menjawab “sungguh tidak ada bagi orang muslim yang tertimpa musibah kecuali alloh menggugurkan kesalahan (dosa-dosanya seperti gugurnya daun-daun pohon)

Anas bin mailk berkata saya mendengar nabi Muhammad bersabda “ allah berfirman apabila aku menguji hambaku berupa sakit (buta) kedua matanya, sedang dia tetap bersabar maka aku akan menggantinya kedua matanya dengan surga”

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh aisah ra disebutkan bahwa nabi bersabda “tidak ada musibah (sakit) apapun yang menimpa orang muslim kecuali allah meleburkan dosa dari orang tersebut, bahkan sakitnya tertusuk duri sekalipun” (HR Bhukari)

mereka yang anti dan benci tasawuf/sufi

Syekh Naqsybandi QS, pilar utama Tarekat Naqsybandi memberi nasihat kepada khalifahnya, Syekh Ala’ud-Din al-Bukhari QS,

Jangan dengarkan orang terpelajar yang menyangkal tarekat. Jika engkau mendengarnya, maka selama tiga hari Setan akan mengendalikan dirimu. Jika engkau tidak bertobat dalam tiga hari, dia akan menguasai orang itu selama 40 hari, dan jika tidak bertobat dalam 40 hari, engkau akan menerima kutukan selama 1 tahun.”

Kini di masa kita, banyak sekali orang yang menyangkal tarekat. Tinggalkan mereka, jangan berargumen dengan mereka. Mereka seperti Abu Jahal, Rasulullah SAW berkata kepadanya, tetapi ia tidak menerimanya. Kita tidak lebih kuat daripada Rasulullah SAW. (Syekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS)

 

Orang-orang yang menusuk dunia Sufi dalam Islam dan ingin merobohkan bahkan ingin menghancurkan dengan berbagai kedustaan, dengan melemparkannya melalui pandangannya yang sesat terbagi menjadi berbagai kelompok: Ada yang memusuhi karena benci dan dendam pada Islam, ada juga karena kebodohannya terhadap hakikat Tasawuf, lalu mereka terkubang dalam kebodohan yang mendustakan.
Kelompok Pertama:

Adalah musuh-musuh Islam dari kaum Zindiq Orientalis dan anthek-antheknya melalui rentetan perang Salib dan aktivitas kolonialisme yang penuh dendam, semata mereka hanya ingin merobohkan benteng-benteng Islam, menghancurkan rambu-rambu utamanya, dan menebarkan racun permusuhan dengan mengembangkan konflik antar barisan Islam.
Mohammad Asad, salah satu orientalis yang masuk Islam telah membuka kedok mereka dalam bukunya, al-Islam fi Muftariqit Thuruq, ketika membicarakan pengaruh perang Salib.

“Mereka memiliki semangat besar untuk meneliti Islam dalam rangka mengetahui rahasia kekuatannya, agar mereka tahu dari mana pintu-pintu masuknya, dan dari gerbang mana jalan menuju umat Islam untuk merobohkan dan merekayasa keburukannya. Diantara para orientalis itu, yang paling berpengaruh adalah RA Nicholson dari Inggris, Goldziher Yahudi, Louis Massignon dari Perancis dan lainnya.

Di satu sisi mereka menebar racun dalam madu, dan memuji Islam dalam sebagian buku-bukunya agar menarik respon pembaca. Ketika mulai tertarik, mereka membuat pengaruh pada akidahnya, lalu menebar kebatilan dalam hatinya untuk ditaburkan pada Islam, dengan berbagai dosa dan dusta.
Kadang-kadang mereka membuat rincian akademik yang spesifik, bahkan berjubah keagamaan, lalu mengenalkan Tasawuf sebagai ruhnya Islam. Namun di satu sisi mereka menegaskan bahwa Tasawuf itu sesungguhnya warisan dari Yahudi, Nasrani dan Budha. Mereka membuat keraguan pada pembacanya bahwa Tasawuf adalah pandangan yang telah menyimpang dan sesat, seperti pandangan tentang Hulul dan Ittihad, Wahdatul Wujud, dan Wahdatul Adyan.
Kita tahu, dan kita tidak asing dengan tudingan mereka, karena mereka adalah musuh. Karena demikian watak musuh dan pemakar. Kita tidak perlu lagi merinci hujatan mereka, karena kita sudah mengenal watak para musuh dunia Sufi dengan tujuannya yang begitu kotor.
Namun yang memprihatinkan kita adalah mereka yang mengaku sebagai tokoh Islam, tetapi mereka mengadopsi pandangan-pandangan musuh Islam itu untuk dijadikan pegangan demi menusuk Islam dari dalam, yaitu Ruhul Islam dan Mutiara Islam, yang tidak lain adalah Tasawuf. Apakah dibenarkan bagi seorang muslim yang berakal, mengambil pandangan dari musuh-musuh Islam yang kafir demi menusuk sesama saudaranya yang muslim? Maha Suci Allah, sungguh sebuah kebohongan besar.
Kalau saja para orientalis itu benar-benar membela Islam, benar-benar tulus dalam tesis mereka dengan keinginannya memurnikan Islam dari kotoran, kenapa mereka juga tidak memeluk Islam?
Kenapa mereka tidak menggunakan metode muslim bagi pandangan hidupnya?

Kelompok Kedua

Adalah mereka yang bodoh terhadap ajaran hakikat Tasawuf Islam, karena mereka tidak mendapatkan bimbingan dari tokoh Sufi yang benar dan dari kalangan Ulamanya yang Ikhlas. Bahkan mereka mengambil analisa tentang tasawuf dengan pandangan yang mengaburkan, jauh dari kejelasan dan fakta.
Mereka ini terbagi-bagi:

  1. Mereka mengambil pandangan Sufi dari kalangan yang mengamalkan tasawuf secara menyimpang yang mengaku sebagai gerakan Tasawuf, tanpa membedakan antara hakikat Tasawuf yang terang dengan peristiwa-peristiwa penyimpangan tasawuf.
  2. Ada kalangan yang terpeleset karena sesuatu yang ditemukan dalam kitab-kitab Tasawuf, sebagai rahasia tersembunyi, lantas menafsirkan menurut selera mereka tanpa adanya pendalaman hakikatnya, bahkan mereka memahami menurut perspektif mereka sendiri, menurut pengetahuan mereka yang terbatas dan dangkal. Tanpa mereka mau merujuk pada wacana dunia Tasawuf yang terang dan jelas yang tidak melanggar syariat. Mereka tidak menerjemahkan melalui pandangan kaum Sufi sendiri terhadap hal-hal yang tersembunyi itu.

Mereka ini semisal orang yang dalam qalbunya ada penyimpangan dan penyakit jiwa, lalu menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang Mutasyabihat dengan penafsiran dangkal mereka yang menyimpang, tanpa mereka memahami ayat-ayat Muhkamat (tegas) dan jelas makna dan tujuannya. Allah Ta’ala berfirman:
“Dialah yang menurunkan kepadamu Kitab, darinya ada ayat-ayat Muhkamat dan disanalah ada Ummul Kitab, dan ayat lain bersifat Mutasyabihat. Sedangkan mereka yang hatinya ada penyimpangan, mereka mengikuti yang kabur dari ayat itu demi menimbulkan fitnah dan meraih rekayasa pemahaman.”
Karena itu agar tidak disalahpahami, sejumlah Ulama Sufi menjelaskan berbagai rahasia Tasawuf dalam kitab-kitabnya, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Araby dalam kitabnya Al-Futuhatul Makkiyyah dan Ar-Risalah oleh al-Qusyairy.

BUKTI KEBENARAN TASAWUF

Proses pencarian dan pencapaian dalam tasawwuf, seperti didefinisikan oleh Abu Bakar al Kattani itu, secara aplikatif telah dilalui oleh Imam Al Muhasiby dan imam Al Ghazali. Dalam kitabnya Al Munqiz Min-a ‘dl-Dlalal Imam Al Ghazali menulis:

“Semenjak mudaku, sebelum aku menginjak usia dua puluh hingga saat ini, ketika aku telah menginjak usia lima puluh tahun, aku selalu mengarungi lautan yang dalam ini. Dengan segala keberanian, menelusuri seluruh segi, dan mempelajari akidah semua firqah, kemudian berusaha membuka rahasia mazhab semuah firqah itu. Agar aku dapat membedakan antara yang benar dengan yang salah, serta antara yang mengikuti sunnah dengan yang membuat bid’ah. Aku tidak memasuki kebatinan kecuali untuk mengetahui kebatinannya, tidak kaum zhahiri (literalis) kecuali agar aku mengetahui hasil kezhahirihannya, juga tidak filsafat kecuali aku hendak mengetahui hakikat filsafatnya, dan tidak kaum mutakallimin kecuali untuk mengetahui hasil akhir kalam dan debat mereka, tidak juga kaum sufi kecuali aku ingin mengetahui rahasia kesufiannya, dan tidak kaum ahli ibadah kecuali aku ingin mengetahui hasil dari ibadahnya, juga tidak kaum zindiq yang tidak mengikuti syari’at kecuali untuk menyelidiki mengapa mereka demikian berani berbuat seperti itu” (1).

Setelah mengkaji sedemikian rupa seluruh firqah dan kecenderungan pemikiran tersebut, akhirnya Al Ghazali berkesimpulan: “Kemudian aku mengetahui dengan yakin, kaum sufi adalah mereka yang benar-benar menuju kepada Allah Swt. Perjalanan hidup mereka adalah yang paling baik. Metode mereka adalah yang paling lurus. Dan akhlak mereka adalah akhlak yang paling bersih. Bahkan, jika digabungkan intelektualitas kaum intelek, kebijaksanaan para bijak-bestari serta pengetahuan ahli tentang rahasia-rahasia syari’ah untuk merubah sedikit saja perjalanan hidup dan akhlak mereka, serta kemudian mengajukkan gantinya yang lebih baik, niscaya mereka tidak akan mampu” (2), (3).

Dengan pembelaan Al Ghazali itu, terutama usahanya menyatukan antara tasawwuf dengan fiqih, dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin”, maka tasawwuf mendapatkan penerimaan yang demikian luas. Untuk kasus Indonesia, misalnya, mayoritas para kiyai yang mempunyai pondok besar dan mempunyai pengetahuan fiqih yang luas, juga menguasai tasawwuf. Walaupun pada sebagian orang hanya untuk dirinya sendiri. Tasawwuf kemudian menjadi salah satu rahasia kekuatan Islam. Baik dalam menyebarkan ajaran Islam secara damai, tanpa menimbulkan disharmoni di tengah masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh Wali Songo di Indonesia (4). Juga dalam mempertahankan ajaran Islam itu.

Dalam buku From Samarkand to Stornoway : Living Islam, Akbar S. Ahmad melukiskan, betapa dengan kekuatan tasawwuf itu, Islam mampu bertahan di negara-negara yang dianeksasi oleh Rusia yang komunis itu. Di bawah tekanan yang demikian hebat, antara lain orang yang ketahuan membaca Al Quran maupun melakukan shalat langsung masuk penjara, namun, dengan semangat dan ajaran tasawwuf, Islam mampu bertahan dalam tahun-tahun yang penuh penderitaan itu. Maka ketika negara-negara di Asia Tengah itu menemukan kemerdekaannya, wajah Islam segera menyembul kepermukaan. Seperti cendawan di musim hujan (5).

Dalam perjuangan mempertahankan Islam dengan kekuatan senjata, secara jelas peran itu terlihat pada tokoh-tokoh puncak kaum sufi. Mereka terlibat dalam banyak peperangan dan ikut serta di tengah kecamuk peperangan itu. Seperti Syaqiq al Balkhi, Hatim Al Asham, Abu Hasan Asy-Syazili yang turut serta dalam peperangan melawan tentara salib di Manshurah, walaupun matanya saat itu telah buta, juga Abdul Qadir al Jazairi serta Imam Muhammad Madli Abul Azaim, yang disebut terakhir turut berjuang untuk mengembalikan khilafah Islamiyyah paska dihapusnya kekhilafahan di Turki (6).

Dan bagi dunia modern sekarang ini, seperti diakui oleh Martin Van Bruninessen(7) dalam wawancaranya dengan majalah Amanah, kans tasawwuf untuk mengajukan dirinya kepada masyarakat modern amat besar. Bahkan ia dengan tegas mengatakan, tasawwuf akan mampu menembus dan menundukkan Barat. Dalam wawancara dengan majalah Tempo, Seyyed Hossein Nasr mengatakan, tasawwuf adalah inti kekuatan Islam. Ia adalah jantungnya Islam. Tasawwuflah yang dengan menjanjikkan dapat memberikan alternatif kepada masyarakat modern di Barat. Dan Rene Guenon, seorang sarjana Prancis yang kemudian mengganti namanya menjadi Syeikh Abdul Wahid Yahya, telah menggunakan kekuatan tasawwuf itu untuk menyebarkan Islam di seluruh penjuru dunia. Hingga gereja harus mengeluarkan keputusannya untuk melarang masyarakat membaca buku-bukunya. Tentu saja itu dilakukan gereja karena melihat pengaruh yang begitu besar dari buku-bukunya itu (8).

Tokoh, dunia telah mengenalnya dan menikmati buku-bukunya, dan itu telah menggetarkan hati banyak orang Barat yang sedang mencari kebenaran. Pada tahun 1977, misalnya, di Oxford telah didirikan sebuah organisasi pengagum pemikiran Ibnu Arabi, The Muhyiddin Ibnu Arabi Society. Sejak 1982 organisasi ini telah menerbitkan sebuah jurnal, yang diberi nama Journal of the Muhyiddin Ibn ‘Arabi Society. Organisasi ini secara berkala mengadakan Pertemuan Umum Tahunan dan Simposium Tahunan di tempat-tempat berbeda (9).

Kini Anda telah hadir di dunia ini. Anda juga telah mengenal wajah tasawwuf dalam arti yang sebenar-benarnya. Tujuan kehadiran Anda di dunia adalah menjalani titian rintangan, cobaan, dan karunia dan bahagia yang ada menuju tahapan demi tahapan ke sisi haribaan-Nya. Hanya Dia-lah yang kita tuju. Hanya kepada-Nya-lah hidup kita berserah. Hanya Dia-lah sumber cinta segala cinta kita.

Selamat mempelajari Tasawwuf!
Semoga kita semua selalu dlm hidayah dan ridlo Allah sbgmn para tokoh sufi dunia seperti Syekh Imam Ghozali dan Syekh Imam Abu Qosim al-Junaidi….Aaamiin Allaahumma Aamiin

Catatan:

1. Lihat:Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali, Al Munqiz Min ‘dl-Dlalal, dalam majmu’at rasail Imam Al Ghazali,Darul Kutub al Ilmiyyah, Beirut, cet. I, 1409 H/1988 M, hal. 24-25.

2. Sama dg no.1. hal. 62

3. Untuk contoh kontemporer proses seperti ini, juga dapat dibaca pada, Syekh Fauzi Muhammad Abu Zaid, Muhammad Ali Salamah Sirah wa Sarirah, Darul Iman wal Hayat, pengantar.

4. Lihat: Abdul Hayyie al Kattani, Ummat Islam Indonesia Sejarah Politik dan Peranannya 600-an –1945, MA Attaqwa, 1411 H/1991 M, hal 12-14

5. Lihat; Akbar S. Ahmad, From Samarkand to Stornoway: Living Islam, BBC Books Limited London, 1993, edisi Bahasa Indonesia, hal. 265-267.

6. Lihat: Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid, Imam Al Azaim Al Mujaddid ash-Shufi, Darul Iman wal Hayat, Cairo, 1412 H/1992M, hal. 49-52.

7. Seorang peneliti Belanda, telah melakukan penelitian tentang tarikat Naqshabandi ke Asia tengah dan Indonesia. Salah bukunya tentang tasawwuf di Indonesia telah diterbitkan. Dan, setelah mempelajari Islam, terutama tasawwuf, ia dengan yakin mengucapkan syahadat.

8. Lihat: Al Madrasah Syaziliyyah, hal. 281 dst.

9. Lihat: Kautsar Azhari Noer, Ibn Al Arabi Wahdat al Wujud dalam Perdebatan, Paramadina, cet. I, 1995, hal. xiv

HAKIKAT DAN SEJARAH TASAWUF

Seringkali tasawuf dituduh sebagai ajaran sesat. Tasawuf dipersepsikan sebagai ajaran yang lahir dari rahim non Islam. Ia adalah ritual keagamaan yang diambil dari tradisi Kristen, Hindu dan Brahmana. Bahkan gerakan sufi, diidentikan dengan kemalasan bekerja dan berfikir. Betulkah?
Untuk menilai apakah satu ajaran tidak Islami dan dianggap sebagai terkena infiltrasi budaya asing tidak cukup hanya karena ada kesamaan istilah atau ditemukannya beberapa kemiripan dalam laku ritual dengan tradisi agama lain atau karena ajaran itu muncul belakangan, paska Nabi dan para shahabat. Perlu analisis yang lebih sabar, mendalam, dan objektif. Tidak bisa hanya dinilai dari kulitnya saja, tapi harus masuk ke substansi materi dan motif awalnya.

Tasawuf pada mulanya dimaksudkan sebagai tarbiyah akhlak-ruhani: mengamalkan akhlak mulia, dan meninggalkan setiap perilaku tercela. Atau sederhananya, ilmu untuk membersihkan jiwa dan menghaluskan budi pekerti. Demikian Imam Junaid, Syeikh Zakaria al-Anshari mendefiniskan.
Asal kata sufi sendiri ulama berbeda pendapat. Tapi perdebatan asal-usul kata itu tak terlalu penting. Adapun penolakan sebagian orang atas tasawuf karena menganggap kata sufi tidak ada dalam al-Qur’an, dan tidak dikenal pada zaman Nabi, Shahabat dan tabi’in tidak otomatis menjadikan tasawuf sebagai ajaran terlarang! Artinya, kalau mau jujur sebetulnya banyak sekali istilah-istilah (seperti nahwu, fikih, dan ushul fikih) yang lahir setelah periode Shahabat, tapi ulama kita tidak alergi, bahkan menggunakannya dengan penuh kesadaran.

Sejarah Tasawuf

Kenapa gerakan tasawuf baru muncul paska era Sahabat dan Tabi’in? Kenapa tidak muncul pada masa Nabi? Jawabnya, saat itu kondisinya tidak membutuhkan tasawuf. Perilaku umat masih sangat stabil. Sisi akal, jasmani dan ruhani yang menjadi garapan Islam masih dijalankan secara seimbang. Cara pandang hidupnya jauh dari budaya pragmatisme, materialisme dan hedonisme.

Tasawuf sebagai nomenklatur sebuah perlawanan terhadap budaya materialisme belum ada, bahkan tidak dibutuhkan. Karena Nabi, para Shahabat dan para Tabi’in pada hakikatnya sudah sufi: sebuah perilaku yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya. Selalu ingat pada Allah Swt sebagai sang Khaliq
Ketika kekuasaan Islam makin meluas. Ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar abad 2 Hijriah). Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup. Konon, menurut pengarang Kasf adh-Dhunun, orang yang pertama kali dijuluki as-shufi adalah Abu Hasyim as-Shufi (w. 150 H)

Urgensitas Tasawuf

Imam Ghazali dalam an-Nusrah an-Nabawiahnya mengatakan bahwa mendalami dunia tasawuf itu penting sekali. Karena, selain Nabi, tidak ada satupun manusia yang bisa lepas dari penyakit hati seperti riya, dengki, hasud dll. Dan, dalam pandangannya, tasawuf lah yang bisa mengobati penyakit hati itu. Karena, tasawuf konsentrasi pada tiga hal dimana ketiga-tiganya sangat dianjurkan oleh al-Qur’an al-karim. Pertama, selalu melakukan kontrol diri, muraqabah dan muhasabah. Kedua, selalu berdzikir dan mengingat Allah Swt. Ketiga, menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur,sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas.
Melihat konsenstrasi bahasan tasawuf di atas, jelas sekali bahwa tasawuf bagian dari Islam.

Tasawuf dan Tuduhan-Tuduhan Miring

Demi objektifitas, menilai apakah tasawuf melenceng dari ajaran Islam apa tidak, kita harus melewati beberapa kriteria di bawah ini. Dengan kriteria ini secara otomatis kita bisa mengukur hakikat tasawuf.
Pertama sekali, penilaian harus melampaui tataran kulit, dan langsung masuk pada substansi materi dan tujuannya.

Lantas apa substansi materi tasawuf? Seperti dijelaskan di atas tujuan tasawuf adalah dalam rangka membersihkan hati, mengamalkan hal-hal yang baik, dan meninggalkan hal-hal yang jelek. Seorang sufi dituntut selalu ikhlas, ridha, tawakal, dan zuhud – tanpa sama sekali mengatakan bahwa kehidupan dunia tidak penting.

Kedua, Menilai secara objektif, jauh dari sifat tendensius dan menggenalisir masalah.

Sikap ini sangat penting. Karena pembacaan terhadap sebuah kasus yang sudah didahului oleh kesimpulan paten akan menghalangi objektifitas, dan memburamkan kebenaran sejati.

Ketiga, memahami istilah atau terminologi yang biasa digunakan para sufi, sehingga kita tidak terjebak kepada ketergesa-gesaan dalam memvonis sebuah masalah.

Misalnya dalam dunia sufi dikenal istilah zuhud. Kemudian orang sering salah mengartikan bahwa zuhud adalah benci segala hal duniawi. Zuhud identik dengan malas kerja, dst. Padahal kalau kita teliti dengan sedikit kesabaran tentang apa itu arti zuhud yang dimaksud para sufi, maka kita akan menemukan bahwa zuhud yang dimaksud tidak seperti persepsi di atas. Abu Thalib al-Maki, seorang tokoh sufi, misalnya, punya pandangan bahwa bekerja dan memiliki harta sama sekali tidak mengurangi arti zuhud dan tawakal.

Keempat, dalam vonis hukum, kita perlu membedakan antara hukum sufi yang mengucapkan kata-kata dalam keadan ecstasy/jadzab dan dalam keadaan sadar.

Konsep ini penting sekali, supaya kita tidak terjebak pada sikap ekstrim seperti memvonis kafir, musyrik, fasik, dll.

Kenyataan di atas sama sekali tidak berarti mau mengatakan bahwa sejarah sufi, putih bersih. Ada masa-masa dimana ada oknum kaum yg mengaku sufi melenceng dari hakikat ajaran Islam, terutama setelah berkembangnya tasawuf falsafi.

Beberapa penyimpangan kaum yg mengaku sufi falsafi:
-Menyepelekan kehidupan duniawi
-Terjebak pada pola pandang jabariah
-Mengaku-ngaku bahwa Allah Swt telah membebaskannya dari hukum taklif, seperti shalat, puasa, dll. Dan semua hal bagi dirinya halal.

Kesimpulan

Setelah mengetahui hakikat ajaran tasawuf di atas jelaslah bahwa ajaran tasawuf, adalah bagian dari kekayaan khazanah Islam. Ia bukanlah aliran sesat. Bahwa ada penyimpang oknum yg mengaku sufi itu tidak berarti tasawuf secara keseluruhan jelek dan sesat. Kita jangan sekali-kali terjebak pada generalisir masalah. Karena sejatinya, tokoh-tokoh sufi berpendapat ajaran tasawuf harus bersendikan al-Qur’an dan Hadis. Diluar itu ditolak!

Tasawuf, seperti dinyatakan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Karena misi tasawuf memperbaiki akhlak. Dan akhlak jelas sekali bagian dari Islam. Karena Nabi Muhammad Saw diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Doa bagi Sufi

Allah berfirman, “berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan.

Dalam keseharian ada banyak orang yang berdoa tetapi seperti tak ada jawaban. Kaum Islam modernis atau non-Sufi yang mengedepankan intelektualitas rasio akan menghubungkan kesalahan pada orang yang berdoa, tetapi dengan lebih menisbahkannya pada kurangnya “pendayagunaan kemampuan diri” atau kurang ikhtiar untuk mewujudkan doa. Sufi juga mengatakan hal yang sama, namun dengan lebih menisbahkan kesalahan dalam “adab esoteris (batiniah)” dan keadaan batin yang kurang tepat.

Bagi Sufi, tidak terealisasinya doa secara segera disebabkan karena seseorang masih mengandalkan sesuatu yang lain selain Tuhan dalam rangka mewujudkan apa yang dimintanya. Kebanyakan manusia, kata Sufi, hanya berdoa dengan “lisan ucapan,” bukan dengan “lisan keadaan” (lisan al-hal). Mereka berdoa, misalnya minta rezeki, tetapi yang keluar baru “lisan ucapan,” sementara “lisan keadaannya” belum ikut meminta. Keadaan seseorang adalah senantiasa membutuhkan, fakir, miskin, tak berdaya. Sayangnya, sembari berdoa, orang umumnya masih belum mengakui kefakiran eksistensialnya, masih ada setitik noda kesombongan baik itu disadari atau tidak, yakni noda keangkuhan eksistensial “tersembunyi” yang menyatakan bahwa jika dirinya berusaha, atau melakukan ini atau itu, sesuai hukum sebab akibat, maka tujuannya akan tercapai. Dengan kata lain, orang awam pada dasarnya hanya menjadikan doa sebagai pelengkap penyerta, seolah-olah doa adalah aspek sekunder dalam tindakannya.

Padahal, menurut pandangan Sufi, karena doa adalah otak ibadah, dan Tuhan tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah, maka doa bukan aspek sekunder, tetapi primer. Dalam berdoa seseorang mesti memusatkan perhatiannya kepada Yang Dicari Permohonannya, bukan pada dirinya sendiri, sebab selama ia masih memandang dirinya sebagai sesuatu yang memiliki daya, ia tak bisa dikatakan “berdoa” dalam arti sesungguhnya.

Inilah sebagian dari makna sabda Kanjeng Rasulullah SAW, “Doa tidak akan dikabulkan dari hati yang lalai,” yakni tidak memperhatikan adab dan hakikat doa itu sendiri. Kondisi ini menyebabkan seseorang harus selalu berbaik sangka kepada Tuhan.

Di sini juga terdapat rahasia dari perintah Nabi saw agar kita selalu mengulang-ngulang doa, terus-menerus setiap hari. Ini adalah cara menanamkan kesadaran dalam diri kita akan kebutuhan kita dan karenanya membangkitkan lisan al-hal untuk “berdoa” mengiringi ucapan doa.

Doa yang paling baik, menurut Sufi,  adalah berupa pengakuan yang tulus akan keadaannya sebagai hamba. Bentuk doa ini biasanya disebut munajat, percakapan intim, yang hanya bisa muncul berkat karunia ilahi. Contoh yang paling terkenal adalah munajat I’tiraf dari Abu Nuwas, yang kerap dibaca sehabis shalat Jum’at. Karena conditio sine qua non dari doa ini tak terpenuhi, tak heran doa akan terasa seperti tidak terkabul. Dengan kata lain, meski seseorang telah berdoa, namun karena dia masih mengandalkan pada usaha dari dirinya sendiri, maka doa tak dikabulkan dengan segera, atau ditunda, atau sebagai tebusan atas dosanya, atau diganti sesuatu yang lain yang lebih cocok dengannya.

Doa yang segera dikabulkan hanya berasal dari doa seseorang yang sudah menyandarkan segala sesuatu sepenuhnya, secara total, hanya kepada Allah semata. Tetapi harus segera ditambahkan di sini bahwa “ketidakterkabulan” doa ini adalah relatif, sebab Allah telah berfirman “berdoalah kepada-Ku maka akan Kukabulkan.

Jadi ketidakterkabulan itu adalah bentuk lain dari keterkabulan doa, sebab Allah lebih tahu ketimbang hamba-Nya tentang apa-apa yang dibutuhkan oleh hamba-hamba-Nya itu. Boleh jadi seseorang meminta sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan vice versa; karenanya pengabulan Allah selalu berdasarkan kepada “kebutuhan yang terbaik,” bukan berdasar “keinginan” kita yang bisa jadi salah atau berlebihan dan tidak cocok dengan keadaan lahir-batin kita.

Analoginya, jika seorang anak TK minta pistol sungguhan kepada ayahnya, sudah barang tentu ia tidak akan diberi, dan dalam kasus ini “tidak memberi” adalah bentuk lain dari ”memberi,” yakni mencegah kemudharatan. Dengan cara yang sama, Allah tidak memberi sesuatu yang dipinta si hamba dalam rangka memberi sesuatu yang lain yang lebih besar manfaatnya, atau setidaknya sesuatu yang mencegah mudharat yang lebih besar kepada hambanya.

Bagi sufi, pemahaman ini penting supaya seorang hamba tidak berburuk sangka kepada-Nya, sebab berburuk sangka akan membawa konsekuensi yang berbahaya, mengingat ada hadis qudsi yang menyatakan “Aku [Allah] adalah sebagaimana prasangka hamba-Ku.” Menurut Sufi, seseorang harus yakin bahwa Allah telah mengetahui, atau bahkan menciptakan, kebutuhannya, bahkan sebelum orang berdoa. Karena itu Syekh Ibnu Athaillah as-Askandari r.a dalam Kitab al-Hikam mengatakan, “yang dibutuhkan darimu hanyalah kepasrahan dan pengakuan total bahwa engkau dalam keadaan yang amat membutuhkan.” Allah telah menetapkan bahwa Dia akan mengabulkan doa siapa saja yang merasa butuh. Firman-Nya, “Siapa yang mengabulkan doa orang yang dalam keadaan membutuhkan [idhthirar]? Dan siapa yagng menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu khalifah di muka bumi? Adakah Tuhan selain Allah?” (Q.S 27:62).

Keadaan “membutuhkan” dalam pengertian ayat itu adalah keadaan “tak punya pilihan,” dan hilangnya “kehendak bebas.” Dari sudut pandang modern, barangkali terdengar aneh dan tak dapat diterima, karena kehilangan kehendak bebas dan pilihan akan menyebabkan seseorang terbelenggu. Namun bagi Sufi, keadaan ini adalah pantulan dan kemerdekaan yang sesungguhnya, kebebasan dari belenggu nafs (hawa nafsu rendahan). Syekh Hakim al-Tirmidhi r.a. menerangkan, “Karena sudah tak tahu mesti berbuat apa lagi, seseorang akan menghadap kepada Tuhannya dengan kesungguhan, mengakui segala kehinaan dan kerendahannya, dan pasrah dalam arti sesungguhnya. Tetapi Tuhan berfirman, Dialah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan ketika dia berdoa kepada-Nya (Q.S. 27:62). Ayat ini menjelaskan bahwa meski hati kita bersemangat dan berupaya sungguh-sungguh, tetap saja keburukan tidak tersingkir dari diri kita, dan tetap saja ada doa yang tak diperkenankan, kecuali doa dan semangat hati kita diarahkan setulusnya kepada Allah semata, karena hanya Allah sajalah yang bisa membuat hati merasakan kesulitan dan sangat membutuhkan-Nya … Orang yang berjalan dalam kesulitan … adalah orang yang sungguh patut mendapat rahmat dan pertolongan-Nya … Dia ditolong dengan rahmat-Nya karena doanya tulus.

Doa mustahil tulus, kecuali setelah seseorang mengalami kesulitan, tak memiliki pegangan dan tak punya rujukan. Orang yang satu perhatiannya di arahkan kepada Tuhan dan satunya lagi diarahkan pada upayanya sendiri, maka dia belum benar-benar dalam kesulitan” [dan karenanya belum berdoa dalam arti yang hakiki]. Jadi, intinya, dibutuhkan ketulusan dan kepasrahan total agar doa lekas terjawab. Tetapi kondisi kepasrahan total ini sangat sulit dicapai, walau tidak mustahil, terutama dalam aspek batinnya, sebab kondisi ini berhubungan dengan wilayah kebenaran mistis (haqiqat]. Seseorang harus mencapai kondisi kepasrahan lahir dan batin seperti yang dicapai Maryam agar ia bisa mendapatkan makanan langsung dari Tuhan tanpa bekerja—Zakaria bertanya, wahai Maryam, dari mana hidangan ini? ‘Dari Allah, dan Dia memberi rezeki kepada orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas’ (QS. 3: 37). Dengan kata lain, seseorang harus menjadi ‘yang dikehendaki Allah’ agar mendapat rezeki tanpa batas—tanpa dibatasi oleh hukum sebab-akibat. Rezeki bukan hanya makanan, tetapi juga rezeki kesehatan, ilmu, harta, dan seterusnya. Jadi, jika orang yang terus-menerus membaca, misalnya, Surah Al-Waqi’ah, dengan ijazah dan kaifiyat yang benar dan secara batin berusaha menyempurnakan dirinya, niscaya, seperti dikatakan oleh Kanjeng Rasulullah SAW, rezeki itu datang secara tak terduga. Orang yang menyempurnakan istighfarnya lahir batin, maka sebagaimana dijanjikan Allah, rezeki akan datang dari arah tak terduga. Dengan cara yang sama, barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka akan ditunjukkan jalan kepada-Nya, akan mendapatkan ilmu langsung dari sisi-Nya, ‘ilm al-ladunni. Hal-hal seperti ini hanya dialami oleh segelintir orang saja, yakni para Nabi dan para wali Allah yang berkedudukan mulia, dan orang-orang yang mendapat hidayah. Jadi tidak mengherankan jika kita jumpai fenomena orang-orang berduyun-duyun berdatangan ke Kiai yang telah dianggap wali Allah untuk memohon agar didoakan, sebab wali yang sudah dalam kondisi seperti tersebut di atas diyakini doanya makbul.

Namun perlu diingat bahwa “kepasrahan total” ini harus dibedakan dengan putus asa dan menggantungkan harapan pada keajaiban semata tanpa ikhtiar. Kepasrahan di sini adalah sikap batin, bukan tindak lahiriah. Jika kepasrahan ini diletakkan dalam konteks yang keliru, maka akan muncul fatalisme atau determinisme (jabariyyah) yang jelas-jelas keliru karena mengesampingkan potensi ikhtiar manusia, dan karenanya bertentangan dengan Kehendak Ilahi yang menghendaki ikhtiar perjuangan atau jihad atau mujahadah di pihak hamba-Nya. Jadi kepasrahan tempatnya ada wilayah batin, bukan di wilayah lahir — secara lahir manusia tetap diwajibkan ikhtiar. Ini adalah bagian dari misteri “kecepatan” terwujudnya sesuatu, kun fa yakun.

Dalam tradisi Sufi, seseorang yang telah mencapai maqam baqa dan disempurnakan oleh Allah, maka ia akan masuk ke maqam kun, di mana Allah akan menjadi pendengarannya, penglihatannya dan seterusnya, seperti dinyatakan dalam hadis qudsi. Tetapi harus ditambahkan bahwa keadaan ini tidak bisa dicapai oleh seseorang yang dalam dirinya masih ada sesuatu selain Allah, yang masih mengikuti keinginannya sendiri, yang masih mengandalkan pada dirinya sendiri, yang masih menyukai dosa, yang masih memelihara hawa nafsunya, dan yang masih memandang keragaman wujud bukan dalam kerangka Kesatuan Wujud.

Orang yang masih memandang dirinya sendiri (dengan segala ilusi potensialitasnya) akan “ditinggalkan” oleh petunjuk, sebagaimana Musa ditinggalkan oleh Khidir Di sisi lain, dalam paradoks kepasrahan/ikhtiar dan doa ini terkandung misteri yang hanya bisa dipahami melalui zawq, atau “rasa” spiritual, seperti tersirat dalam ungkapan Sufi, “Bukan engkau yang memilih jalan, namun jalanlah yang memilihmu.

” Wa Allahu a’lam bi ash-shawab

SYIRIK KHAFI (sirik yang samar)

Syrik khafi misalnyaseorang melakukan sholat lalu ia memperbagus shalatnya manakala sedang di lihat orang lain. Nabi SAW karena sangant cintanya kepada umatnya maka beliau mengingatkan kita dari bahaya syirik khafi ini sebab tidak akan lepas darinya kecuali orang orang yanga hatinya di terangi degna cahaya tauhid dan keihlasan, syirik khafi sering di kenal denga riya’. Seperti juga orang yang member sesuatu agar disebut dermawan dan murahhati, maka ini juga termasuk riya’.dalam sebuah hadis disebutkan “siapa yang sholat karena riya’ maka dia telah syirikmsiapa yang berpuasa karena riya’ maka dia telah syirikdan siapa yang bersedkah karena riya’ maka ia telah syirik” imam ahmad dalam musnad 4/125-126.Dan dari ubaidah bin ash shamit dengan sanad hasan

Barang siapa yang menginginkan dunia dan perhiasannya dengan amal perbuatan yang dia lakukan maka wajib baginya mengikhlaskan diri kepada alloh. Amal perbuatan untuk mencari dunia misalkan berjihad agar di bilang pemberani atau agar mendapat penghargaan atau pengakuan masyarakat maka itu termasuk dalam kategori riya’.

Qatadah berkata “barang siapa yang ia inginkan. Ia cari dan ia niatkan adalah dunia. Maka alloh membalasnya dengan kebaikan di dunia”

Alloh berfirman : “barang siapa emnghendaki kehidupan dunia dan perhiasanya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan, itulah orang orang yang tidak memperolah di akhirat, kecualineraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia sialah apa yang telah mereka kerjakan ” Qs Huud 15-16

http://infomulia.blogspot.com/2011/05/syirik-khafi-sirik-yang-samar.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.